KANKER
PAYUDARA
I.
KONSEP DASAR PENYAKIT
Pengertian
Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak
normal dari sel-sel tubuh yang berubah menjadi sel kanker dalam perkembangannya
(WHO, 2003/http/www.who.net/mediacontrol/ radians.2003/pr28/en).
Kanker adalah suatu penyakit neoplasma yang
mempunyai spektrum sangat luas dan kompleks (I Dewa Gede Sukardjo, 2000:163).
Kanker payudara adalah kanker yang berasal dari
saluran kelenjar, dan jaringan penunjang payudara tidak termasuk kulit payudara
(Schwartz Shires , 2000:227)
Dari ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan
bahwa kanker payudara adalah pertumbuhan tidak normal, neoplasma yang mempunyai
spektrum sangat luas dan kompleks, dari saluran kelenjar penunjang payudara
2.
FISIOLOGI
Tiga hal fisiologis yang mempengaruhi payudara:
a.Pertumbuhan
dan Involusi Berhubungan dengan Usia
Kelenjar payudara berasal dari penebalan epidermis. Menjelang menarche,
maka pertumbuhan bertambah dengan dibentuknya percabangan ductus dan
proliferasi stroma diantara ductus. Pada pubertas terjadi penambahan stroma dan
ductus terminal yang kecil tumbuh menjadi alveolusalveolus.
Estrogen merangsang pertumbuhan payudara dengan meningkatkan penyimpanan
lemak pada payudara, menjadi jaringan stroma (seperti contohnya, meningkat baik
dalam jumlah dan elastisitasnya), dan pertumbuhan ductus secara berlebihan
estrogen juga meningkatkan vaskularisasi pada jaringan payudara.
Sekali ovulasi dimulai pada pubertas kadar
estrogen meningkat. Peningkatan progesteron menyebabkan pematangan jaringan
glandula mammae, khususnya struktur ocinar dan lobuller. Selama dewasa simpanan
lemak dan pertumbuhan jaringan fobrisus berkontribusi terhadap meningkatkan
ukuran glandula. Perkembangan yang penuh dari mammae tidak akan tercapai hingga
akhir dari kehamilan pertama atau pada awal periode laktasi
Pada saat menopause,
payudara mengecil dan tulang padat. Pada usia ini tampak pengurangan jumlah dan
besarnya lobulus sertatampak penambahan jaringan elastis. Struktur kelenjar
menghilang dan hanya tampak ductus saja seperti payudara pria.
a.Perubahan
karena Siklus Haid
Sama
dengan endometrium, maka payudara juga dipengaruhi siklushaid. Payudara berubah
ukuran dan nodulernya sebagai respon terhadap perubahan siklus ovarium selama
masa reproduktif. Peningkatan kadar estrogen dan progesteron dalam 3-4 hari
sebelum menstruasi akan meningkat vaskularisasi padapayudara, merangsang
pertumbuhan ductus dan acini, dan meningkatkan retensi air. Sel epitel pada
ductus mengalami proliferasi dalam jumlahnya, dilatasi ductusdan distensi
lobullusacini menjadi membesar dan mengeluarkan sekret, dan lemak disimpan di
dalam sel epitel tersebut. Sebagai akibatnya, payudara membengkak, adanya nyeri
bila ditekan dan perasaan tidak nyaman adalah gejala-gejala umum sebelum terjadinya
menstruasi. Setelah menstruasi, proliferasi seluler mulai mengalami penurunan,
acini mulai menurun ukurannya dan air yang mengalami retensi menghilang.
Perubahan
fisiologis pada ukuran payudara dan aktivitasnya mencapai tingkat minimal
sekitar 5-7 hari setelah menstruasi berhenti.
b.Perubahan
karena Kehamilan dan Laktasi
Beberapa
saat setelah konsepsi akibat kehamilan akan tampak pada payudara, payudara akan
menjadi penuh dan padat. Kelenjar payudara membesar karena lobulus ukuran dan
jumlahnya bertambah.
Jaringan payudara
seluruhnya terdiri dari unsur kelenjar sehingga menyerupai pankreas, sedangkan
stroma hanya sedikit kelenjar dilapisi banyak epitel koboid selapis dan pada
trimester ketika tampak adanya sekumpulan lemak dalam sel dan segera setelah partus
sekresi susu terjadi.
Setelah masa laktasi selesai, maka akan terjadi
atropi kelenjar. Ductus-ductus mengecil dan seluruh payudara akan mengecil
lagi.
Laktasi atau pengeluaran
air susu penyalurannya keluar dari buah dada sewaktu dihisap atau fungsi buah
dada. Hal ini dapat diuraikan memalui tahap-tahap:
a) Sekresi air susu
b) Pengeluaran dari buah dada
Pada
kehamilan minggu ke 16 mulai terjadi sekresi yang membuat saluran buah dada
tetap terbuka dan siap untuk fungsinya. Sesudah bayi lahir, buah dada si ibu
keluar sekret berupa cairan bening yang disebut Colostrum yang kaya
protein, dan dikeluarkan selama 2-3 hari pertama. Kemudian air susu mengalir
lebih lancar dan menjadi air susu yang sempurna. Sebuah hormon dari lobus
anterior kelenjar hipofisis, yaitu prolaktin adalah penting dalam merangsang
pembentukan air susu. Keluarnya
sekresi ini dikendalikan oleh hormon dari hipofisis bagian anterior dan
kelenjar tiroid.
Klasifikasi Kanker Payudara
Ada 2 macam klasifikasi kanker payudara, yaitu:
Khas Patologis
1. Kanker puting payudara, paget’s disease
Adalah bentuk kanker yang dalam taraf permulaan manifestasinya sebagai
eksema menahun puting susu, yang biasanya merah dan menebal tumbuh di bagian
terminal diduktus laktoferis. Secara patologik, ciri-cirinya adalah sel-sel
paget (seperti pasir), hipertropi sel epidermoid, infiltrasi sel-sel bundardi
bawah epidermis.
2. Kanker Duktus Laktiferus
Papilary, comedo, adeno carcinoma dengan banyak fibrosus (scirrhus),
medulary carcinoma dengan infiltrasi kelenjar semuanya infiltrating.
3. Kanker dari Lobulus
Infiltrating dan non infiltrating.
Khas Klinik
Khas ini
dibagi berdasarkan khas TNM.
a. T, artinya tumor :
Tx : Syarat-syarat
minimum untuk menilai tumor primer tidak dapat dipenuhi.
To : Tidak ada bukti tumor primer.
Tis : Kanker insitu (kanker intraduktal10 bulan in
situ atau penyakit paget puting susu tanpa ada tumor yang dapat dipalpasi).
T1 : Tumor < 2 cm pada dimensi terbesarnya:
T1a :
Tidak ada fiksasi ke fascia/otot
pektoralis di bawahnya
T1b : Fiksasi ke fascia/otot pektoralis di bawahnya
(1) Tumor < 0,5 cm
(2) Tumor > 0,5 cm < 1,0
cm
(3) Tumor > 1,0 cm < 2,0
cm
T2 : Tumor > 2 cm tetapi < 5 cm pada
dimensi terbesarnya
T2a :
Tidak ada fiksasi ke fascia/otot
pektoralis di bawahnya
T2b : Fiksasi
ke fascia/otot pektoralis di bawahnya.
T3 : Tumor > 5 cm pada diensi terbesarnya
T3a :
Tidak ada fiksasi ke fascia/otot pektoralis di bawahnya
T3b : Fiksasi ke fascia/otot
pektoralis di bawahnya.
T4 : Tumor dengan sembarang ukuran dengan perluasan
langsung ke dinding dada atau kulit (dinding dada mencakup iga, otot-otot
intercostalis, dan otot seratus anterior tetapi bukan otot pektoralis).
T4a : Fiksasi ke
dinding dada
T4b : Edema (termasuk
peau d’orange), ulserasi kulit payudara pada nodul-nodul kulit satelit pada
payudara yang sama.
T4c : Kedua di atas
b. N, agar bervariasi menurut periode waktu
tahapannya sebagai berikut:
Nx : Kelenjar limfe regional tidak dapat
dinilai secara klinis.
N0 : Kelenjar limfe akibat hormonal
dianggap tidak mengandung kanker.
N1 : Kelenjar limfe axila homolateral yang
dapat digerakkan dianggap mengandung kanker.
N2 : Kelenjar limfe axila homolateral
dianggap mengandung kanker dan saling terfiksasi ke kelenjar limfe yang lain
atau ke struktur lain.
N3 : Kelenjar limfe supra atau
infraklavikula homolateral dianggap mengandung kanker/edema.
Definisi untuk stadium evaluatif bedah dan
patologi reseksi pasca bedah:
Nx : Kelenjar limfe regional tidak dapat
dinilai (tidak diangkat untuk pemeriksaan atau belum pernah diangkat
sebelumnya)
N0 : Tidak ada bukti metastasis kelenjar
limfe axila homolateral.
N1 : Metastasis ke kelenjar axila
homolateral yang masih dapat digerakkan dan tidak dapat saling terfiksasi ke
kelenjar lainnya atau pada struktur lain.
N1a : Mikroorganisme
< 0,2 cm di dalam kelenjar limfe.
N1b : Metastasis
besar di kelenjar limfe.
-
Metastasis
< 0,2 cm tapi < 2,0 cm dalam 1-3 kelenjar limfe
-
Metastasis
> 0,2 cm tapi < 2,0 cm dalam > 4 kelenjar limfe.
-
Perluasan
metastasis besar melewati kapsul kelenjar limfe (berdimensi < 2,0 cm)
-
Metastasis
dalam kelenjar limfe berdimensi >2,0 cm.
N2 : Metastasis ke kelenjar limfe axila
homolateral yang saling terfiksasi dengan kelenjar lainnya atau dengan struktur
lain.
N3 : Metastasis ke kelenjar limfe supra
infraklavikula homolateral.
a.
Metastasis
Jauh (M)
Mx : Syarat-syarat minimum untuk menilai
adanya metastasis jauh tidak dapat dipenuhi.
M0 : Tidak ada metastasis jauh.
M1 : Ada metastasis jauh
b.
Tingkat/stadium berdasarkan TNM
Stadium I : T1a N0 (N1a)
M0
T1b N0 (N1a) M0
Stadium II : T0N1bM0 T2aN0(N1a)M0
T1aN1bM0 T2bN0(N1a)M0
T1bN1bM0 T2aN1bM0
Stadium III : Setiap T3 dengan N apa saja, M0
Setiap T4 dengan N apa saja, M0
Setiap T dengan N2M0
Setiap T dengan N3M0
Stadium IV : Setiap T dengan N apa saja M1
Etiologi
Tidak ada satu pun penyebab spesifikasi kanker payudara, sebaliknya
serangkaian faktor genetik, hormonal dan kemungkinan kejadian lingkungan dapat
menunjang terjadinya kanker ini.
Meskipun belum ada penyebab spesifik faktor
resiko. Faktor ini, penting dalam membantu mengembangkan progra-program
pencegahan. Faktor-faktor resiko tersebut mencakup:
1.Riwayat pribadi tentang kanker payudara. Resiko mengalami kanker payudara
pada payudara sebelahnya meningkat hampir 1% setiap tahunnya.
2.Anak perempuan atau saudara perempuan (hubungan dengan langsung) dari
wanita dengan kanker payudara.
3.Menarche dini, resiko kanker payudara
meningkat pada wanita yang mengalami mestruasi sebelum usia 12 tahun.
4.Multipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama. Wanita
yang mempunyai anak pertama setelah usia 30 tahun mempunyai resiko 2x lipat
untuk mengalami kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang mempunyai anak
pertama mereka pada usia sebelum 20 tahun.
5.Menopause pada usia lanjut. Menopause setelah usia 50 tahun meningkatkan
resiko untuk mengalami kanker payudara.
6.Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai tumor payudara
disertai perubahan epitel proliferatif mempunyai resiko 2x lipat untuk
mengalami kanker payudara, wanita dengan hiperplasia tipikal mempunyai resiko
4x lipat untuk mengalami penyakit ini.
7.Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum
usia 30 tahun beresiko hampir 2x lipat.
8.Obesitas resiko diantara wanita pasca menopause. Bagaimanapun, wanita
gemuk yang didiagnosa penyakit ini mempunyai angka kematian lebih tinggi, yang
paling sering berhubungan dengan diagnosis yang lambat.
9.Kontrasepsi oral, wanita yang menggunakan kontrasepsi oral beresiko
tinggi mengalami kanker payudara.
10.Terapi penggantian hormon.
11.Masukan alkohol, sedikit peningkatan resiko ditemukan pada wanitayang
mengkonsumsi alkohol bahkan dengan hanya sekali minum dalam sehari. Resikonya
2x lipat diantara wanita yang minum alkohol 3x sehari. Di negara dimana minuman
anggur dikonsumsi secara teratur (misal: Perancis dan Italia), angkanya sedikit
lebih tinggi. Beberapa temuan riset menunjukkan bahwa wanita muda yang minum
alkohol lebih rentan untuk mengalami kanker payudara pada tahun-tahun
terakhirnya.
Tanda dan Gejala
- Pada fase awal kanker payudara asimtomatik.
- Teraba adanya benjolan atau penebalan payudara, benjolan tidak teraba
nyeri, terfiksasi dan keras dengan batas yang tidak teratur.
- Tanda dan gejala lanjut meliputi, kulit cekung (lesung, retraksi atau deviasi puting susu dan adanya nyeri tekan).
- Terkadang dari puting keluar darah.
- Kulit tampak dimpling atau peau d’orange, kulit tebal dengan pori-pori
menonjol sama dengan seperti kulit jeruk. Hal ini disebabkan oleh adanya
obstruksi sirkulasi limfatik dalam lapisan dermal.
- Terkadang terdapat ulserasi pada payudara.
- Jika ada keterlibatan nodul akan teraba nodul yang menjadi keras,
pembesaran nodus limfa axilaris dan nodus supra navikula yang terdapat pada
daerah leher.
- Tanda dan gejala dari metastasis yang luas meliputi: nyeri pada bahu,
pinggang, punggung bagian bawah atau pelvis, batuk yang menetap, anoreksia
disertai dengan penurunan berat badan, gangguan pencernaan, pusing, penglihatan
kabur, dan sakit kepala.
Patofisiologi
Hormon-hormon steroid yang dihasilkan oleh ovarium mempunyai peranan
penting dalam kanker payudara. 2 hormon utama itu (estradiol/ estrogen dan
progesteron) mengalami perubahan dalam lingkungan seluler yang dapat
mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi kanker payudara.
Seperti steroid lainnya estrogen berkaitan dengan suatu reseptor protein
intra sel yag menghasilkan suatu bentuk senyawa kompleks yang kemudian
berkaitan dengan DNA, mendorong pembentukan mRNA yang kemudian menyebabkan
sintesis protein baru yang memodifikasi fungsi sel.
Sedangkan di payudara progesteron merangsang pembentukan lobulus dan alveolus.
Hormon ini menginduksi diferensiasi jaringan ductus yang telah dipersiapkan
oleh estrogen.
Kanker payudara pada wanita berusia subur bersifat dependent estrogen,
pertumbuhannya bergantung pada adanya estrogen dalam darah. Tumor tidak dapat
disembuhkan dengan sekresi estrogen, tapi gejala-gejala secara dramatis akan
menghilang dan tumor mengecil selama beberapa bulan/tahun sebelum tumor
tersebut kambuh kembali.
Dari beberapa uraian di atas hal ini membuktikan bahwa hormon pertumbuhan
dalam prolaktin merangsang terjadinya pertumbuhan kanker payudara
Diagnosa Medis
Untuk menegakkan suatu diagnosa kanker banyak pemeriksaan penunjang yang
harus dilakukan, hal ini dilakukan dengan tujuan agar tidak ada kesalahan dalam
pembuatan diagnosa medis. Berikut ini adalah beberapa pemeriksaan penunjang
yang dapat dilakukan pada klien yang diduga menderita kanker( menurut doenges1999 ;752), yaitu:
1.Mammografi
adalah teknik pencitraan payudara yang dapat mendeteksi lesi yang tidak
terpalpasi, dengan alat mammografi dapat ditemukan benjolan yang kecil
sekalipun terdeteksi. Tanda berupa mikroklasifikasi tidak khas untuk kanker,
bila secara klinis ditemui ada tumor dan pada pemeriksaan mammografi tidak
ditemukan apa-apa, maka pemeriksaan harus dilanjutkan dengan biopsy sebab
sering karsinoma tidak tampak pada mammograf. Mammograf pada masa premenopause
kurang bermanfaat karena gambaran kanker diantara jaringan kelenjar kurang
tampak.
Indikasi mammograf sebagai berikut:
1.
Evaluasi
benjolan yang digunakan atau perubahan samaran payudara.
2.
Mammae
kontralateral jika pernah ada kanker payudara.
3.
Mencari
karsinoma primer jika ada metastasis.
4.
Penapisan
karsinoma mammae pada resiko tinggi.
5.
Penapisan
sebelum tindakan buah plastik/kosmetik.
2.Biopsi Payudara (Jarum atau Eksisi)
Prosedur yang lazim dilakukan terhadap segala masa payudarayang dapat
diraba. Keseluruhan lesi dengan jaringan yang mengelilingi tepi lesi diangkat.
Penanganan jaringan spesimen yang sesuai diperlukan untuk mengkaji secara
akurat reseptor hormon estrogen dan progesteron. Biopsi stereolaktif dilakukan
dengan pasien dalam posisi pronasi dimana payudara dapat terakses untuk
pemeriksaan mammografi kemudian memasukkan jarum ke dalam jaringan padaposisi
yang telah diidentifikasi oleh komputer dan mengangkat beberapa sel dari lesi.
3. USG (Ultrasonografi)
Digunakan bersama dengan mammografi untuk membedakan kista yang berisi
cairan dengan jenis lesi lainnya.
4.
CT
scan dan MRI
Teknik ini akan dapat mendeteksi penyakit payudara, khususnya massa yang
lebih besar, atau tumor kecil, payudara mengenai yang sulit diperiksa dengan
mammografi. Teknik ini tidak bisa untuk pemeriksaan rutin.
5.
Pemeriksaan
Sitologi
Asprasi jarum harus dilakukan ketika lesi dideteksi melalui mammograf atau
palpasi dengan cara mengambil jaringan atau cairan ke dalam jarum. Bahan
sitologik ini diusapkan diatas reparat kaca dan kirim ke laboratorium untuk
dilakukan analisis, prosedur ini lebih murah dari metode diagnostik lain dan
hasilnya dapat segera diketahui
6.
Galaktografi
adalah mematikan kurang dari 1 ml material radio opaque melalui kanula ke dalam
duktus ostium pada areola yang diikuti dengan tindakan mammografi. Hal ini
dilakukan ketika terdapat rabas mengandung darah ketika dilakukan duktus
soliter yang mengalami diatasi saat mammografi.
7.
Fhoto
toraks: pemeriksaan fungsi hati, hitung sel darah dan scan tulang dilakukan
untuk mengkajiadanya metastase.
Manajemen Medik secara Umum
Pengobatan Kanker Payudara
1. Pembedahan
a.
Mastectomi parsial,mulai dari limpektomy sampai pengangkatan segmental (
pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena ).
b.
Mastektomy total ..........
c.Mastektomy
radikal yang dimodifikasi. Pengangkatan keseluruhan jaringan payudara dan nodus
limfe aksilaris, otot pektoralis mayor dan minor tetapi utuh. Saat ini
merupakan terapi pilihan untuk semua kanker payudara yang tidak disertai metastase.
2. Non
Pembedahan
a.
Terapi
radiasi
penyinaran radiasi
biasanya dilakukan setelah insisi massa tumor untuk mengurangi kecenderungan kambuh dan untuk
menyingkirkan kanker residual.
b. Kemoterapi diberikan untuk menyingkirkan penyebaran penyakit
mikrometasik. Kemoterapi secara umum dilakukan setelah mastektomy. Kemoterapeutik
didasarkan pada usia individu, status fisik, penyakit dan apakah klien ikut
serta dalam perubahan klinik, reaksi dari kemoterapi yaitu asietas yang
diantisipasi adalah respons yang umum diantara klien yang menghadapi
kemoterapi. Efek samping fisik kemoterapi adalah mual dan muntah, perubahan
rasa kecap, alopisia (rambut botak) mucositis, dermattis, keletihan, perubahan
berat badan.
cTerapi
Hormonal
Keputusan tentang terapi hormonal untuk kanker payudara didasarkan pada
indeks reseptor progesteron dan estrogen yang diturunkan dari uji pemeriksaan
uji jaringan tumor yang diambil selama biopsi.
Dampak Post Radikal Mastektomy Terhadap Sistem
Tubuh
Sistem Reproduksi
Pada umumnya ditemukan adanya treatment untuk
kanker payudara antara lain mastektomy (simple, modifikasi, radikal), terapi
radiasi, dan kemoterapi. Umumnya hal ini menyebabkan gangguan pada aktivitas
seksual menurun frekwensi dan kesulitan orgasme. Gangguan body image dipercaya
sebagai faktor penyebab kesulitan seksual pada pasien kanker payudara yang
hilang atau di operasi,Gangguan pada anita yang berusia subur bersifat dependen
estrogen.
Sistem Persyarafan
Biasanya pada klien dengan post
radikalmastektomy ditemukan adanya nyeri yang disebabkan oleh luka insisi dan
kerusakan sel-sel kanker pada jaringan kanker, selain itu nyeri dapat
merangsang pada sistem RAS yang dapat menyebabkan klien terjaga.
Sistem Muskusloskeletal
Pada umumnya mungkin ditemukan adanya kekuatan
otot penuh ada juga yang terjadi kelemahan, hal ini disebabkan karena adanya
kekakuan pada otot.
Sistem Integumen
Pada umumnya biasanya pada klien post radikal
mastektomy ditemukan adanya gangguan sistem integumen karena adanya luka insisi
sehingga kontinuitas jaringan terputus dan modifikasi kulit payu dara.
Sistem Pencernaan
Biasanya ditemukan adanya mual dan muntah
karena adanya peningkatan asam lambung, hal ini diakibatkan karena klien dengan
post radikal mastektomy sering mengeluh cemas dan pengaruh obat bius.
Sistem Kardiovaskuler
Adanya peningkatan denyut jantung tidak
teratur, tekanan darah bisa normal atau terjadi kenaikan, denyut bisa naik atau
tidak teratur, hal ini dikaitkan dengan adanya kecemasan.
Sistem Pernapasan
Pada umumnya ditemukan adanya penggunaan otot
bantu napas, hal ini dikarenakan adanya kekakuan pada otot dan adanya rasanya
rasa nyeri sehingga klien berusaha bernapas untuk mengurangi kaku pada otot dan
nyeri dengan cara menggunakan otot bantu napas.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KANKER
MAMMAE DENGAN POST RADIKAL MASTEKTOMY
i.
Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan
untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien, agar dapat
mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan perawatan
pasien baik fisik mental, sosial dan lingkungan.
1. Pengumpulan Data(DEMOGRAFI)
a. Identitas klien dengan gangguan sistem
reproduksi akibat kanker payudara biasanya terjadi pada usia termuda 20-29
tahun, yang tertua > 80 tahun dan kebanyakan pada umur 40-49 tahun, dengan
jenis kelamin biasanya kaum wanita, makan makanan yang berlemak, tinggi dan
hormonal progesteron dan estrogen, makan/minum zat pengawet lainnya, sedangkan
laki-laki biasanya rokok, minum alkohol, dan makan pengawet dan zat kimia
lainnya, tempat kerja industri dan pabrik banyak polusi, pendidikan kurang
pengetahuan tentang kesehatan, suku biasanya di daerah tertentu, status dalam
perkawinan beberapa kali (Hanifa Wiknjosastro 1999:587).
b.Riwayat Kesehatan
1) Alasan
masuk rumah sakit
Keluhan utama masuk rumah
sakit adalah akibat ada benjolan, pusing, dan merasa pegal-pegal pada ketiak
dan nyeri di supraklavikular, badan lemah dan lesu.
2) Keluhan utama saat dikaji pada umumnya :
Nyeri di daerah payudara,
pegal-pegal di supraklavikula, dirasakan ketiak rasa nyeri diangkat, rasa nyeri
dengan skala 3 (0-5).
3) Riwayat Kesehatan Dahulu
Meliputi yang pernah dialami
semasa kanak-kanak, kecelakaan pernah dirawat atau dioperasi sebelumnya, apakah
klien mempunyai kebiasaan makan yang berlemak, apakah punya riwayat benjolan di
payudara sebelumnya, apakah klien sebelumnya sudah melakukan pengobatan khusus
untuk payudara, apakah klien mengkonsumsi obat-obatan tertentu apa dan
jenisnya.
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien menjelaskantentang
penyakit kesehatan keluarga dan keturunan (alergi, asthma, jantung, DM) dan
penyakit menular lainnya (hepatitis dan TBC) adalah riwayat keluarga yang
menderita kanker, karena dapat diturunkan secara genetik.
5) Riwayat Ginekologi
Pada klien dengan gangguan
sistem reproduksi akibat kanker payudara, menstruasi pada umur < 17 taun dan
> 12 tahun, berapa bulan sekali apakah siklus 28 hari atau kurang, dan apakah
perkawinan pada usia < 17 tahun atau > 35 tahun, pernikahan ke berapa,
menggunakan kontrasepsi jenis apa yang digunakan dan lama digunakan.
c.Pola Aktivitas Sehari-hari
Kemungkinan klien akan
mengalami gangguan dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
1) Kebutuhan Pemenuhan Nutrisi
Terjadinya penurunan nafsu
makan maupun peningkatan asam lambung akibatnya klien sering mengeluh rasa
cemas.
2) Personal Hygiene
Klien dengan kanker payudara
cenderung pemenuhan kebutuhan personal hygiene (mandi, gosok gigi, keramas
rambut) terganggu karena ketelitian dalam memenuhi kebutuhan.
3) Istirahat Tidur
Pada klien dengan gangguan
sistem reproduksi akibat kanker payudara cenderung sering batuk bila sudah
metastase, sering kepala pusing, pegal-pegal suptaklavikula dan kelenjar
aksilaris, sehingga istirahat tidur terganggu.
4) Eliminasi
Pada klien dengan gangguan
sistem reproduksi akibat kanker payudara memiliki keterbatasan aktifitas gerak
dimana menyebabkan kristalitik usus melambat dan menyebabkan konstipasi.
5) Aktivitas
Keterbatasan dalam bergerak
akibat kanker mammae dan tangan kanan pegal-pegal dan aksilaris, klien
beraktivitas membutuhkan bantuan dari keluarga.
a. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang
dilakukan meliputi sistem tubuh yang menyeluruh dengan menggunakan teknik
inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi,
1) Sistem Reproduksi
Pada umumnya ditemukan adanya
treatment untuk kanker payudara antara lain mastektomy (simple, modifikasi,
radikal), terapi radiasi dan kemoterapi. Hal ini menyebabkan gangguan pada aktivitas
seksual menurun, frekwensi dan kesulitan mencapai orgasme. Gangguan body image
dipercaya sebagai faktor penyebab kesulitan seksual pada pasien kanker
payudara.
2) Sistem Persyarafan
Biasanya pada klien dengan
post radikal mastektomy ditemukan adanya nyeri yang disebabkan oleh luka insisi
dan kerusakan sel-sel kanker pada jaringan kanker, selain itu nyeri dapat
merangsang pada sistem RAS yang dapat menyebabkan klien terjaga.
3) Sistem Muskuloskeletal
Pada umumnya mungkin ditemukan
adanya kekuatan otot penuh adanya juga yang terjadi kelemahan, hal ini
disebabkan karena adanya kekakuan pada otot.
4) Sistem Integumen
Pada klien dengan kanker
payudara, dengan radikal mastektomy diturunkan adanya gangguan sistem karena
adanya luka insisi sehingga kontinuitas jaringan putus.
5) Sistem Pencernaan
Biasanya ditemukan adanya mual
dan muntah karena adanya peningkatan asam lambung, hal ini diakibatkan karena
klien dengan post radikal mastektomy sering mengeluh rasa cemas.
6) Sistem Kardioveskuler
Adanya peningkatan denyut jantung
tidak teratur, tekanan darah bisa normal atau terjadi kenaikan, denyut nadi
bisa naik atau tidak teratur hal ini dikaitkan dengan adanya kecemasan.
7) Sistem Pernapasan
Pada umumnya ditemukan adanya
penggunaan otot bantu napas, hal ini dikarenakan adanya kekakuan pada otot dan
adanya rasa nyeri sehingga klien berusaha bernapas untuk mengurangi kaku pada
otot dan nyeri dengan cara menggunakan otot bantu napas.
b. Data Psikologis
Kemungkinan klien
memperlihatkan kecemasan terhadap penyakit. Hal ini karena dalam masyarakat
sampai saat ini masih merasa kanker adalah penyakit yang mematikan, sehingga
klien akan mengalami masa-masa kritis situasi dan kurangnya pengetahuan tentang
prosedur tindakan yang akan dilakukan. Perlu dikaji pandang hidup klien
terhadap sebab tindakan keperawatan yang klien jalani. Kaji ungkapan klien
tentang ketidakmampuan koping, perasaan negatif tentang tubuh, dan kesalahan
informasi tentang penyakitnya.
1) Status Emosi
Suatu studi terhadap penderita
kanker yang telah menjalani operasi menunjukkan adanya berbagai komplikasi
psikologis pasca operasi yang dapat dikelompokkan dalam gejala kejiawaan,
yaitu:
-
Kecemasan
Raksi kecemasan ini sering
muncul tidak saja sewaktu klien diberitahukan tentang penyakitnya, tetapi juga
setelah menjalani operasi, kecemasan tersebut lazimnya mengenai hal finansial,
kekhawatiran tidak diterima lingkungan keluarga atau masyarakat.
-
Ketergantungan
(Dependensi)
Perasaan tergantung ini sering
muncul sesudah operasi dilakukan, seringkali disertai dengan kemunduran dalam
berperilaku (biasa), hidupnya tidak saja tergantung secara fisik tetapi juga
secara emosional kepada orang lain.
-
Depresi
Perasaan depresi dan rasa
putus asa, seringkali menyertai klien sesudah menjalani dan selama perawatan
dirumah sakit. Keadaan ini dirasakan terutama bagi mereka yang semasa sehatnya
adalah orang yang aktif dan kreatif, maka dengan penyakit dan operasi yang
dijalaninya itu, seolah-olah merupakan hukuman, tidak jarang klien merasa
musibah yang dialaminya itu sebagai kesalahan darinya/ sebaliknya menyalahkan
orang lain.
-
Hypokondriasis
Keluhan-keluhan hipokondriasis
seringkali terdapat pada penderita sesudah keluar dari rumah sakit dan
merupakan suatu reaksi kelanjutan, penderita menunjukkan macam-macam keluhan
fisik dan berganti sifatnya yang ada kaitannya dengan penyakit kanker yang
telah diangkat melalui operasi. Keluhan-keluhan ini secara psikodinamik
merupakan upaya untuk menghilangkan kecemasan atau depresinya dengan
mengkompresikan kepada keluhan-kelihan fisik, selain daripada itu juga guna
memperoleh perhatian dan sekitarnya.
2) Konsep Diri
-
Harga
Diri
Perilaku pasien berkaitan pada
harga diri sering merasa salah, tidak mampu, mudah tersinggung, pesimis,
isolasi dan merusak diri.
-
Identifikasi
Diri
Perilaku pasien berkaitan
dengan menyalahkan diri sendiri, cemas sampai panik yang tidak realistik,
kurang penerimaan terhadap diri mereka dan disfungsi sex.
-
Konsep
Diri
Perilaku klien berkaitan
dengan konsep diri: harga diri rendah, takut, isolasi, tidak terkontrol, pasif
dan frustasi.
3) Mekanisme Koping
Banyak koping diri mekanisme
yang digunakan pasin untuk memecahkan masalah mereka diantaranya saling
bertukar pikiran/pendapat dengan orang lain, kolaborasi, rasionalisasi,
mendapat informasi.
4) Dukungan Keluarga dan Sosial
Keadaan keluarga untuk
mendukung keadaan pasien mengekspresikan perasaan, menerima umpan balik,
motivasi klien untuk mengekspresikan perasaan negatif, memberi informasi apa
yang pasien butuhkan, memberi bantuan material, tanggung jawab dan bantuan
fisik.
c. Data Spiritual
1) Agama yang dianut oleh klien dan bagaimana
menjalankan ibadah apakah terganggu atau tidak.
2) Apakah klien suka berdoa.
3) Bagaimana kegiatan terhadap keadaan
penyakitnya.
d. Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium
Untuk penunjang operasi yang
direncanakan nilai laboratorium normal meliputi hemoglobin, leukosit,
hematokrit. Untuk nilai normal hemoglobin wanita dewasa yaitu 13-18 gr/dl,
leukosit 3.8 – 10.6 ribu/mm3, hematokrit 40-52%, dan faal fungsi
kanker jaringan payudara.
2) Terapi
Meliputi antibiotik diberikan
pada hari ke 1 dan 2 diberikan melalui intravena, hari ke 3 dan seharusnya
diberikan peroral. Analgetik diberikan hari 1, 2, dan 3 untuk anti nyeri
2. Analisa Data
Analisa data merupakan
proses berpikir dalam pengkajian di mana data yang menyimpang di kelompokkan
kemudian di analisa dalam di interpretasikan sehingga di peroleh
masalah-masalah keperawatan yang klien perlukan.Data harus divalidasi kembali,
setelah itu dikelompokkan ke dalam data subyektif dan obyektif kemudian
diidentifikasi pada masalah dan penyebab:
a. Gangguan integritas kulit
berhubungan dengan pengangkatan bedah jaringan perubahan sirkulasi adanya edema
drainase, perubahan pada elastisitas kulit, sensasi destruksi jaringan
(radiasi).
Masalah ini
kemungkinan dapat dibuktikan oleh kerusakan permukaan kulit, kerusakan lapisan
kulit atau jaringan subkutan (Doengoes, Marylinn E, dkk., 2001:154).
b. Nyeri berhubungan dengan terputus
kontinuitas jaringan
Masalah ini
kemungkinan dapat dibuktikan oleh keluhan kekakuan bebas pada area dada, nyeri
bahu, lengan, perubahan tonus otot, fokus pada diri sendiri, distraksi atau
melindungi bagian yang nyeri dan skala nyeri (0-10) (Doengoes, Marylinn E,
dkk., 2001:755).
c. Gangguan dalam konsep diri yang
berhubungan dngan sifat pembedahan dan efek samping radiasi atau kemoterapi,
tentang ketertarikan seksual. Masalah ini kemungkinan dapat dibuktikan oleh
perubahan aktual pada struktur tubuh, menyatakan ketakutan penolakan oleh orang
lain, perubahan dalam lingkungan sosial, perasaan negatif tentang tubuh selalu
memikirkan perubahan atau kehilangan, tidak mau melihat tubuh, tidak
berpartisipasi dalam terapi (Doengoes, Marylinn E, dkk., 2001:756).
d. Gangguan mobilisasi fisik
berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan, pembentukan edema, ganggua
neuromuskuler.
Masalah ini
kemungkinan dapat dibuktikan oleh menolak upaya untuk bergerak, membatsi
rentang gerak, penurunan massa otot/kekuatran (Doengoes, Marylinn E, dkk.,
2001:757-758).
ii.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan merupakan pernyataan yang jelas tentang masalah klien dan
penyebabnya. Selain itu, harus spesifik berfokus pada kebutuhan klien dengan
mengutamakan prioritas dan diagnosa yang muncul harus dapat diatasi dengan
tindakan keperawatan. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada post
oeprasi radikal mastektomi:
1. Gangguan dalam konsep diri yang
berhubungan dengan sifat pembedahan dan efek samping radiasi atau kemoterapi.
2. Nyeri berhubungan dengan terputus
kontinuitas jaringan.
3. Kurang perawatan diri berhubungan
dengan imobilitas parsial extrmitas atas dan bawah pada tangan yang dilakukan
pembedahan payudara kanan.
4. Kemungkinan disfungsi body image
berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh/organ dan ketakutan terhadap orang
lain.
5. Infeksi berhubungan dengan luka payudara
dan kurang dapat antibiotik.
6. Gangguan integritas kulit berhubungan
dengan pengangkatan bedah payudara/jaringan, perubahan sirkulasi, adanya edema,
drainase, perubahan pada elastisitas kulit, sensasi, destruksi jaringan
(radiasi).
7. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan
dengan nyeri atau ketidaknyamanan pembentukan edema payudara, gangguan
neuromuskular.
iii.
Perencanaan
Perencanaan
adalah merupaan suatu proses kegiatan merencanakan asuhan keperawatan untuk
membantu memenuhi kebutuhan kesehatan klien dan mengatasi masalah keperawatan.
Pada perencanaan mengandung unsur promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif, dan melibatkan klien dan keluarga. Selain itu, dalam
merencanakan suatu tindakan harus berorientasi pada Tujuan dan sesuai dengan
etiologi. Sesuai dengan diagnosa yang dirumuskan diatas, maka dpat dirumuskan
pula tujuan dan intervensiu keperawatan yaitu :
1. Gangguan dalam konsep diri yang
berhubungan dengan sifat pembedaan dan efek samping radiasi atau kemoterapi
Tujuan : adaptasi realistik
terhadp perubahan-perubahan yang akan terjadi relatif terhadap modalitas
pengobatan :
1) Memutuskan tentang rencana pengobatan
setelah mendiskusikan dengan dokter dan keluarga
2) Menggunakan bahwa sistem berduka harus
berjalan sesuai apa adanya
3) Menggunakan sistem dukungannya secara
efektif dan merencanakan masa depan mereka
4) Akhirnya melihat pada insisinya dan ikut
serta dalam penggantianbalutan Mengekspresikan pemahaman tentang keuntungan
jangka panjang kemotherapi/radiasi (jika diharuskan) meskipun akan terhadap
efek samping yang tidak menuntungkan.
|
Intervensi Keperawatan
|
Rasional
|
|
Konfirmasikan
dengan dokter mengenai sifat dari pengobatan yang diperkirakan
|
Hal
ini membentuk dasar rencana terapeutik kooperatif yang akan mencegah tidak
sampainya informasi yang membingungkan pada pasien
|
|
Jelaskan
pada pasien bahwa adanya rasa berduka ketika mengalami kehilangan bagian
organ tubuh adalah normal
|
Dengan
pemikiran ini, pasien kemudian akan dapat dengan bebas bersih pada tingkat
koping selanjutnya.
|
|
Dorong
kunjungan oleh orang yang dicintai dan teman-teman yang memahami perasaan
pasien.
|
Sistem
pendukung yang bermakna bagi pasien akan lebih langsung disbanding dukungan
dari orang lain
|
|
Jelaskan
pada pasien adalah normal bahwa ia atau keluarg/orang untuk tidak ingin
melihgat insisi : lebih jauh haruskan fakta bahwa insisi akan terlihat lebih
baik
|
Hal
ini mengurangi perasaan bahwa ia akan tidak pernah mampu menerima perubahan
tubuhnya.
|
|
Dikusikan
bersama pasien penggunaan proksis dan penyesuaian pakaian sebagai pengharapan
realistis dan yang dapat dicapai.
|
Penekanan
pada adaptasi yang positif dan ketersediaan akan peningkatan konsep diri pasien dan meningkatkan penerimaan positif
terhadap rencana pengobatan.
|
2.
Nyeri berhubungan dengan terputus kontinuitas jaringan.
Tujuan : Tidak adanya nyeri dan rasa tidak nyaman
Hasil yang diharapkan :
1)
Melaporkan ketika nyeri memburuk dan menerima indikasi
untuk nyeri yang diinginkan
2)
menyesuaikan posisinya untuk menghilangkan ketidak
nyamnan : menggunakan bantal secara efektif
3)
Sering melakukan latihan : menggunakan lengan yang
sakit secara perlahan dan menunjukkan kemajuan dalam bergerak dari latihan
pasif ke latihan aktif (ROM)
4)
Menguraikan aktivitas di rumah yang akan memberikan
tentang gerakan yang dperlukan dari lengan yang sakit.
5)
Menyebutkan prosedur yang haru diikuti jka cedera
secara tidak disengaja terjadi.
6)
Rumusan lebih indentifikasi medis bila diagnosa
limpadema dengan
|
Intervensi Keperawatan
|
Rasional
|
|
Kaji
intensitas, sifat, lamanya dan letak nyeri perhatikan petunjuk verbal dan non
verbal
|
Memberikan
dasar untuk mengkaji keefektifan tindakan pada nyeri.
|
|
Diskusikan
sensasi masih adanya payudara normal
|
Memberi
keyakinan bahwa sensasi bahwa imajinasi dan penghilangannya dapat dilakukan
|
|
Berikan
analgesik melalui im, iv dan oral sesuai yang diresepkan
|
Meningkat
peredaran rasa nyeri
|
|
Jelas
bahwa analgesic untuk tersedia untuk merasakan nyeri
|
Analgesic dan narkotika dapat merangsan saraf ke
otak dan medulla spinalis
|
|
Posisi tubuh yang sesuai akan meningkatkan
kenyamanan seperti posisi semi fowder dan meninggikan lengan yang sakit
|
Stres pada letak inci dikurangi gaya gravitasi
mengurangi akumulasi cairan pada lengan (meremas bola dan refleksi pegangan
tangan dimulai pada 24 jam pertama)
|
|
Berikan tindakan keperawatan dasar (contoh :
perubahan posisi pada punggung atau sisi yang tak sakit pijatan punggung) dan
aktivitas terapeutik, dorong ambulasi dini dan penggunaan teknik relaksasi
bimbingan imajinasi, sintuhan terapeutik
|
Meningkatkan relaksasi, membantu untuk mempokus
perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
|
|
Tekan dada saat latihanbatu/nafas dalam
|
Memudahkan partisipasi pada efektivitas tanpa
timbuil ketidak nyamanan
|
|
Tngkat latian pasif kemudian aktif dari tangan
dan kaki, lengan dan bahu yang sakit
|
Latihan ini akan meningkatkan sirkulasi,
meningkatkan kompetensi neurovaskuler, dan mencegah stasis kekakuan pada bahu
|
|
Beri pujian pada pasien ketika tampak kreatif
atau rapi, seperti gaya rambut yang menarik atau riasan wajah yang sesuai
|
Lesejahteraan psikotosis melengkapi efek optimal
kesehatan fisik yang baik.
|
3. Kemungkinan disfungsi body image
berhubungan dengan kehilangan bagian organ tubuh dan ketakutan terhadap orang
lain.
Tujuan : mengidentifikasi
perasaan kehilangan salah satu organ tubuh dan dapat diterima sesuiai keadaanb
yang dialami.
1) Merespon dengan menunjukkan rasa percaya
dan keinginan untuk mendapat bantuan mengajukan pertanyaan yang sesuai
2) Melibatkan keluarga dalam aspek-aspek
masalah medis yang mengkhawatirkan kedua orang tuanya.
3)
Menerima letak insisi,(operasi) seperti yang dibuktikan dengan membantu menganti
balutan dan menggunakan salep yang diresepkan
4)
Mengekspresikan kesadaran bahwa setiap penyesuaian
membutuhkan waktu tetapi bahwa harus dengan kesadaran dan pengertian, maka
tujuan yang diinginkan dapat didekati dan kemungkinan untuk diraih
|
Intervensi Keperawatan
|
Rasional
|
|
Dengan
nyaman mendiskusikan tentang body image menunjukkan kasuh saying tidak
memberikan penilain, sikap yang mendukung.
|
Pasien
akan dengan mudah merasakan ketidak tulusan, ketidaknyamanan, kurang
pengetahuan dan kurang pengalaman perawat yang mengetahui hal ini bila
mendapatkan dari perawat ahli klinis ortologi.
|
|
Beri
motivasi pada waktuyang tepat terhadap kedua orang tua/keluarga untuk
mendiskusikan kekhawatiran-kekhawatiran, hal ini dapat dilakukan sebelum dan
setelah pengobatan mayor.
|
Pasien
akan merasakan bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi masalah yang dapat
mengkhawatirkan kedua orang tuanya/keluarga lainnya
|
|
Atur
privasi ketika mendiskusikan masalah-masalah pribadi dengan pasien
|
Masalah
pribadi yang sensitive tidak diungkapkan ketika orang yang dekat dengan
pasien tidak hadir
|
|
Jelaskan
tentang letak posisi dan penampilannya pada keluarga/orangtua
sebelumbenar-benar melihatnya
|
Keluarga/orang
tua akan mengetahui apa yang akan dilihatnya dan kemungkinan tidak akan kaget
dengan pasien
|
|
Tekankan bahwa perubahan perilaku membutuhkan waktu
dan seharusnya tidak diinterpretasikan sbagai penolakan
|
Sifat
yang sangat mendasar dari menjadi segala jenis pembedahan membutuhkan waktu
untuk menerimanya, penyembuhan dan kemungkinan perobahan gaya hidup
|
|
Dorong
untuk melindungi dan menghindari segala hal yang dapat merusak barier kulit
sehingga membebani stress pada lengan dan bahu (terluka kepanasan ,deterjen
yang kuar, infeksi, membawa kantung atas tas yang berat)
|
Karena
sirkulasi saraf yang melemah rentan terhadap stress mendadak atau
berkepanjangan.
|
|
Sarankan
pengobatan krim yang efektif beberapa kali sehari
|
Praktik
ini akan menjaga kulit tetap sehat, utuh, lentur, tahan terhadap kerusakan.
|
|
Instruksikan
pasien untuk menghubungi dokter jika lengan atau letak inti permukaan menjadi sangat nyeri, bengkak atau
kemerahan
|
Pengoabatan
diri terhadap kemungkinan infeksi dan cedera akan menghindari ketidaknyamanan
komplikasi lebih lanjut
|
|
Sarankan
penggunaan labu identifikasi medis jika terdapat potensi cedera atau oedema
|
Labu
identifikasi medis akan berfungsi sebagai waspadaan udara pada lengan yang
sakit
|
4.
Kurang perawatan diri berhubungan dengan imobilitas
parsial extrimitas dan basah pada tangan yang dilakukan pembedahan payudara
kanan.
Tujuan : menghindari kerusakan
mobilitas dan pencapaian perawatan diri hingga yang paling tinggi.
Hasil yang diharapkan :
1) Ikut serta dalam pengertian bahwa :
menunjukkan minat dalam bekerja sama dengan tim rehabilitas termasuk ahli
terapi fisik.
2) menunjuklan perhatian tentang penampilan
dan menerima saran-saran dari kelompok pendukung rehabilitas
3)
Ikut serta dalam perawatan diri
4) Mengungkapkan antisipasi dan kesenangan
tentang kunjungan teman-teman dan menunjukkan kemajuannya.
|
Intervensi Keperawatan
|
Rasional
|
|
Motivasi
klien untuk mempartisipasi secara aktif dalam perawatan pasca operasi
|
Keterlibatan
klien meningkatkan dan memfasilitasi proses penumbuhan
|
|
Motivasi
agar klien bersosialisasi, terutama dengan orang-orang yang telah secara
berhasil mengatasi keadaan serupa
|
Manusia
tumbuh lebih efektif dan lebih bahagia ketika mereka mampu untuk berhubungan
dengan orang laon secara sisial
|
|
Buat
modivikasi progresif dalam program latihan klien sesuai tingkat kenyamanan
dan …….
|
Hal
ini menurunkan ketegangan pada jaringan perbaikan konsisten.
|
5.
Infeksi berhubungan dengan luka payudara kotor, kurang
dapat antibiotic dan proses pembedahan.
Tujuan : Penghindaran
komplikasi
Hasil yang diharapkan :
1) Memperagakan bagaimana cara untuk
meletakkan bantal sehingga peninggian dada kanan dapat dipertahankan
2)
Mengurangi strategi untuk menghindari infeksi
3)
Secara bertahap menggerakkan tangan dapat dilakukan
danda kenyamanan, hindari ketidaknyamanan dari bahu dan tangan kanan.
4) Mengembangkan kebiasaan kesehatan yang
baik dan menghindari komplikasi
|
Intervensi Keperawatan
|
Rasional
|
|
Motivasi
untuk meninggikan tangan jika tidak merupakan kontra indikasi dengan setiap
sendi karena lebih tinggi dari yang lebih proksimal. Informasikan pasien
untuk menghindari infeksi
|
Edema
dikurangi dan terdapat di sedikit tekanan pada saraf dan pembuluh darah nyedi
dan tidak nyaman dikurangi. Hal ini dapat menstimulasi akumulasi cairan dan
mengganggu nerovaskuler lengan.
|
|
Uraikan
dan peragakan latihan dengan cara lengan deni langkah demi langkah dari yang
sederhana ke yang lebih rumit.
|
Program
latihan secara bertahap akan memperbaiki tonus otot dan mempercepat rentang
sempurna aktivitas dengan menghindari kerusakan seperti bahu dan siku
|
|
Rekomendasikan
terapi fisik dan program relaksasi berat badan jika di indikasikan
|
Latihan dan aktivitas yang diharuskan secara
tepat dan memotifasi unit adalah hindaran kesehatan umum yang meningkatkan
kesejahteraan dan menghindari komplikasi.
|
6. Gangguan intensitas kulit berhubungan
dengan peningkatan bedah kulit/jaringan, perubahan sirkulasi, adanya edema,
drainase, perubahan pada elastisitas kulit, sensasi, instruksi jaringan
(Radiasi)
Hasil yang diharapkan :
1) Meningkatkan waktu penyembuhan luka, bekas
drainase purulen/eritema.
2) Menunjukkan perilaku/teknis untuk
meningkatkan penyembuhan / mencegah
komplikasi
|
Intervensi Keperawatan
|
Rasional
|
|
Kaji
balutan/luka untuk karakteristik dranainese awasi jumlah edema kemeraha, dan
nyeri pada insisi dan payudara, awasi suhu tubuh.
|
Penggunaan
balutan tergantung luas pembedahan dan tipe penutupan lika drainase terjadi
karena banyak pembuluh darah dan limpatik pada area tersebut. Pengenalan dini
terajadinya infeksi dapat menyimpulkan pengobatan dengan cepat.
|
|
Jangam
melakukan pengukuran tekanan rusuk atau menginjeksikan obat atau memasukan iv
pada tangan dan dada kanan yang sakit/operasi
|
Meningkatkan
potensial infeksi dan limfedema pada sis yang sakit. l
|
|
Infeksi
donor/isi t andur (bila dilakukan) terhadap warna pembentukn limpa,
perhatikan drainase dari sisi donor
|
Akumulasi
uraian drainase (…..linfe darah) meningkatkan pemenuhan dan penurunan
kerentanan terhadap infeksi silang biasanya diangkat sekitar hari ke tiga
atau bila drainase behenti.
|
|
Motivasi penggunaan pakaian yang tidak
senpit/ketat. Beritahu pasien untuk tidak menggunakan jam tangan atau
perhiasan lain pada tangan yang sakit
|
Menurunkan tekanan pada jaringan yang terkena,
yang dapat memperbaiki sirkulasi/penumbuhan.
|
|
Kolaborasi
pemeberian analgetik semi indikasi
|
Distribusi
secara protilaksis atau atau mengobati indeksi khusus dan meningkatkan
pertumbuhan serta mengurangi rasa nyari
|
7.
Gangguan motivasi fisik berhubungan dengan nyeri/tidak
nyaman pembentukan edema gangguan neuromuskuler
Hasil yang diharapkan :
1)
Menunjukkan keinginan untuk berpartisipasi dalam terapi
2) Menunjukkan teknik yang memampukan
melakukan aktivitas
3)
Meningkatkan kekuatan bagian tubuh yang sakit
|
Intervensi Keperawatan
|
Rasional
|
|
Tinggikan
lengan yang sakit sesuai indikasi mulai melakukan rentang gerak aktif dan
pasif sesegra mungkin
|
Meningkatkan
aliran balik vena mengurangi kemungkinan limfedema. Latihan pasca operasi
dini biasanya mulai pada 24 jam pertama untuk mencegah kekakuan sendi yang
dapat berlanjut pada keterbatasana gerakan/mobilitas
|
|
Biarkan
pasien mengerakkan jari. Perhatikan senasi dan warna tangan yang sakit
|
Kurang
gerakan dapat menunjukkan masalah saraf brachial interkosta,Dan perubahan
warna dapat mengindikasikan gangguan sirkulasi
|
|
Motivasi
pasien untuk menggunakan lengan kiri, contoh makan, mensisir rambut, mencuci
muka
|
Peningkatan
sirkulasi, membantu meningkatkan edema, dan mempertahan kekuatan dan fungsi
lengan dan tangan. Aktivitas ini
menggunakan lengan tanpa abduksi yang dapat menekan jahitan pada peride pasca
operasi
|
|
Bantu
dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan
|
Menghemat
energi pasien, mencegah kelelahan
|
|
Bantu ambulasi dan dorong memperbaiki postur
tubuh
|
Pasien akan merasa tidak seimbang dan dapat
memerlukan bantuan sampai terbiasa terhadap perubahan punggung tegak mencegah
bahu bergerakl kedepan, menghindari keterbatasan permanent dalam gerakan dan
postur.
|
|
Tindakan latihan sesuai indikasi contoh :
ekstensi aktif dengan lengan dan rotasi bahu saat berbaring di tempat tidur,
mengepakan pendulum, memutar tali, mengangkat lengan untuk menyentuh ujung jari
dibelakang kepala
|
Mencegah kekakuan sendi meningkatkan sirkulasi,
dan mempertahankan tonus otot bahu dan lengan kanan
|
|
Lanjutkan pada tnagan (jari berjalan di dinding)
menjepit dangan di belakang kepala, dan latihan abduksi penuh, sesegera
mungkin pasien dapat melakukan
|
Karena kelompok latihan ini dapat menimbulkan
tegangan berlebihan pada insisi sampai terjadi proses pertumbuhan lebih
janjut, latihan ini ditunda.
|
|
Evaluasi adanya/derajat latihan sehubungan
dengan nyeri dan perubahan mobilisasi sendi, mengikat lengan atas dan bawah
bila terjadi edema
|
Mengawasi kemajuan/perbaikan komplikasi dapat
memerlukan penundaan untuk meningkatkan latihan dan menunggu sampai
penyembuhan berikutnya terjadi.
|
|
Diskusikan tipe latihan yang dilakukan di rumah
untuk meningkatkan kekuaran dan meningkatkan sirkulasi pada lengan yang sakit
|
Program latiha membutuhkan kesinambungan untuk
meningkatkan fungsi optimal siusi yang sakit
|
|
Koordinasi program latihan kedalam perawatan
diri dan aktivitas pekerjaan rumah, contoh : berpakaian sendiri, emncuci,
bernenang, membersihkan daput, mengepel
|
Pasien biasanya lebih senang untuk
berpartisipasi atau menemukan kegiatan yang mudah untuk mempertahankan
program latihan yang cocok dalam pola hidup dan menghasilkan tugas dengan
baik
|
|
Bantu pasien untuk mengidentifikasikan tanda dan
gejala tangan bahu, rasa terbakar pada regio pokapular instruksikan
pasien untuk duduk atau melipat tangan pada posisi tergantung pada waktu yang
lama
|
Perubahan berat dan sokongan mebuat tegangan
pada struktur sekitarnya
|
|
Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi
|
Nnyeri membutuhkan control untuk latihan atau
pasien tidak dapat berpartisipasi secara optimal dan kesempatan untuk latihan
mungkin hilang.
|
|
Pertahankan integritas balutan elastis atau
pakaian dengan lengan baju elastis yang menekan
|
M,enibngkatkan aliran balik vena dan
meningkatkan resiko atau efek pebentukan edema
|
iv.
Pelaksanaan
Implementasi atau pelaklsanaan merupakan perwujudan
darai dencana yang sudah dibuat sendiri dengan masing-masing diagnosa
leperawatan yang sesuai dengan saran dan peraturan yang ada. Perawat merupakan
keterampilan, sikap, dan pengetahuannya yang sesuai dengan ilmu pengetahuan. Pelaksanaan dilaksanakan sesuai
dengan masalah yang muncul, dapat persifat dependen maupun kolaboratif. Adapun
pelaksanaan harus memperhatikan :
1.
Sesuai dengan tindakan yang dilaksanakan
2. Sesuai
dengan prioritas tindakan
3. Pencatatan ditulis dengan jelas, singkat
istilah baik dan benar serta dengan menggunakan kata kerja.
4. Menentukan paraf /nama jelas dan waktu
pelaksanaan tindakan
v.
Evaluasi
Dalam proses perawatan mengangkat pengumpulan data
subjektif dan objektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan
keperawatan sudah dicapai atau belum, massalah apa yang sudah dipecahkan dan
apa yang perlukan dikaji, direncanakan dan dinilai kembali. Tujuan evaluasi ini
adalah untuk memberi rencana keperwatan yang diberikan serta hasilnya dengan
standar yang telah ditentukan terlebih dahulu.
tes komen....
BalasHapusok
BalasHapus